Lalu ia memijat lutut. Bokep baru Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuil tempat duduk.“Terima kasih,” ujarnya ringan.Aku sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkan lagi, sehingga tidak perlu curi-curi pandang melirik lehernya, dadanya yang terbuka cukup lebar sehingga terlihat garis bukitnya.“Saya juga tidak suka angin kencang-kencang. Atau mau gunting? Tapi ia dingin sekali. Masih ada waktu bebas dua jam. Langkahku semangat lagi. Sebantar lagi Mbak Mona yang punya salon ini datang, biasanya jam segini dia datang.”Aku langsung beres-beres dan pulang. Ke bawah lagi: Tidak. Bahannya tipis, tapi baunya harum. Aku masih termangu. Sopir menepikan kendaraan persis di depan




















