Lagi pula percuma, tadi saja di angkot aku kalah lawan kancing. Bokep Aku masih termangu. Tapi ia masih berjongkok di bawahku.“Yang ini atau yang itu..?” katanya menggoda, menunjuk Juniorku.Darahku mendesir. Hah..? Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu hilang.Aku hanya mendengus. Aku terlambat setengah jam. Toh ia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku.Aku harus, harus, harus..! Tetapi tidak lama, suara pletak-pletok terdengar semakin nyaring. Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.Dulu aku paling anti masuk salon. Pintu salon kubuka.“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”
“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan.




















